Cahya's Website

Personal website of Cahya DSN

 :: BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM - In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful

Thursday, September 30, 2004

Mengakui Kesalahan Mendapatkan Kehormatan

Akuilah kesalahan kita. Mengakui kesalahan bukanlah pertanda kelemahan. Justru diperlukan kekuatan yang luar biasa besar untuk mampu melihat dan mengakui kesalahan. Terlebih lagi untuk meminta maaf sekaligus membangun komitmen baru untuk memperbaikinya. Sebagai manusia, kita takkan bisa mencapai kesempurnaan. Kebijakan dan pelajaran hidup takkan tercapai dengan mengejar kesempurnaan. Namun, kesalahan adalah teman terbaik yang membisikkan bagaimana kita sebaiknya bertindak. Dengan mengakui kesalahan kita membungkam semua celotehan dan mengubahnya menjadi rasa hormat. Yang perlu kita lakukan adalah bertindak benar. Salah satunya, kita harus berani mengakui kesalahan.

Kita mungkin masih teringat sewaktu kanak-kanak dulu, betapa ngerinya mengakui kesalahan. Kita dihukum berdiri di depan kelas, atau menerima jeweran, yang meski tak menyakitkan namun membuat hati terluka. Kita tahu, kita dihukum bukan karena mengakui kesalahan, namun karena tak mau mengakui kesalahan pada waktunya. Bahkan, kini pun masih banyak orang takut mengakui kesalahan. Padahal, dengan mengakui kesalahan dan bersedia menerima konsekuensinya, kita dapat tertidur dengan tenang di malam hari. Kita pun tak perlu takut untuk bangun keesokan harinya.

Memang, esok hari hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berani menghadapinya.

Tuesday, September 28, 2004

Mulailah Memberi

Bila tak seorang pun berbelas kasih pada kesulitan kita. Atau, tak ada yang mau merayakan keberhasilan kita. Atau tak seorang pun bersedia mendengarkan, memandang, memperhatikan apa pun pada diri kita. Jangan masukkan ke dalam hati. Manusia selalu disibukkan oleh urusannya sendiri. Manusia kebanyakan mendahulukan kepentingannya sendiri. Kita tak perlu memasukkan itu ke dalam hati. Karena hanya akan menyesakkan dan membebani langkah kita.

Berdirilah di depan jendela. Pandanglah keluar. Tanyakan pada diri sendiri,apa yang bisa kita berikan pada dunia ini. Pasti ada alasan kuat mengapa kita hadir di sini. Bukan untuk merengek atau meminta dunia menyanjung kita. Keberadaan kita bukan untuk kesia-siaan. Bahkan seekor cacing pun dihidupkan untuk menggemburkan tanah. Dan, sebongkah batu dipadatkan untuk menahan gunung. Alangkah hebatnya kita dengan segala kekuatan yang tak dimiliki siapapun untuk mengubah dunia. Itu hanya terwujud bila kita mau memberikannya.

Ringankan hidup kita dengan memberi pada orang lain. Semakin banyak kita memberi semakin mudah kita memikul hidup ini.

Monday, September 27, 2004

Pertandingan Belum Usai Hingga Benar-benar Usai

Jangan pernah berkata "tidak akan pernah". Itu menutup semua pintu. Mengabaikan semua kesempatan dan perbaikan. Sekaligus mengecilkan arti diri kita. Tak seorang pun tahu semua jawaban. Namun sebuah kemungkinan pasti datang bila kita bersedia membuka pintu cukup lebar. Ubahlah ketertutupan dengan memberikan maaf. Sediakan ruang yang lebar bagi orang lain utuk mengetuk pikiran kita. Mengatakan "tidak akan pernah" berarti menolak masa depan yang pasti datang. Tidak pernah adalah tidak ada, kecuali dalam kesempitan pikiran yang berasal dari kesombongan kita.

Tak seorang pun bisa menolak kita kecuali pikiran kita sendiri. Begitu pula, kita takkan kuasa menolak orang lain kecuali dalam pikiran kita. Terimalah segala kemungkinan biarpun tampaknya bagai keajaiban. Katakan bahwa mereka boleh datang kembali suatu saat. Sampaikan bahwa mereka diijinkan untuk menghubungi lagi esok. Jangan sekali-kali memaku harga mati.

Sebelum peluit ditiupkan, pertandingan masih berlagsung. Bola masih berputar. Goal pun masih mungkin tercipta. Bahkan kemenangan pun masih bisa dirayakan

Friday, September 24, 2004

Hari Istirahat adalah Hari Matahari

Hargailah waktu istirahat kita. Istirahat bukanlah saat berhenti yang tak menghasilkan produktivitas apa-apa. Atau sekedar waktu luang di antara kesibukan. Istirahat adalah bergerak maju dengan nafas yang teratur dan langkah yang ringan. Jangan memacu diri kita dengan kecepatan yang sama. Suatu saat kita akan melalui tikungan, tanjakan atau curaman. Di situ kita perlu memindahkan persneling diri kita, menurunkan kecepatan, meringankan kumparan. Saat itulah kita harus menghirup nafas dalam-dalam, dan merasakan kesegaran baru. Istirahat diadakan bukan untuk melupakan tujuan, namun memberikan kesempatan untuk memperoleh kesadaran akan diri kita, demi sebuah langkah baru, penciptaan baru, pada jalan keberhasilan kita. Itulah maksud dari rekreasi.

Tak salah bila orang Inggris menyebut hari Minggu sebagai Sunday, hari matahari. Dan, itu bukanlah hari libur untuk melangkah, namun hari untuk menyadari bahwa ada matahari dalam hidup kita. Cahaya matahari adalah sumber energi yang menumbuhkan kehidupan, dan juga menggugah kesadaran bahwa kita memiliki bayang-bayang hitam di balik sinarnya. Bila kita menjauhi cahaya, kita berjalan mengikuti bayang-bayang hitam kita. Namun bila kita berjalan menuju cahayanya, bayang-bayang itu tertinggal di belakang.

Setiap hari adalah hari matahari, hari cahaya, hanya bagi mereka menyadari.

Thursday, September 23, 2004

Carilah Kesadaran Diri Kita

Akuilah bahwa kita takkan memiliki semua jawaban atas pertanyaan hidup ini. Hidup tak sekedar pertanyaan. Hidup adalah misteri. Mudahnya, kita tak perlu mencari semua jawaban. Carilah kesadaran akan diri kita. Kita adalah sosok unik yang tercipta dari keputusan dan pengalaman hidup,bagaimana kita akan menggunakan cermin orang lain untuk menemukan kesadaran akan diri sendiri.

Dan perjalanan terpenting bagi setiap manusia adalah perjalanan ke dalam hati, menemukan diri sejati. Semakin tinggi kita mendaki bukit, kita tiba di kaki gunung. Semakin tinggi kita mendaki gunung, kita tiba di kaki mahameru. Semakin tinggi kita memanjat mahameru, kita tiba di kaki langit. Kini kita tak mungkin mendaki lagi, kita perlu terbang melayang. Hingga seperti Icarus
yang lebur dalam sentuhan cahaya matahari.

Tak bisa kita memberikan sesuatu pada dunia ini bila tak tahu siapa diri kita sendiri.

Tuesday, September 21, 2004

Busanailah Ucapan Kita Dengan Senyum

Tersenyumlah. Karena senyuman akan meluluhkan banyak hal. Ia menghangatkan kepalan tangan yang menggigil. Ia menyejukkan dada yang membara. Tak cukup kita hanya berkata-kata, lebih baik kita meriasnya dengan busana terindah; yaitu senyuman. Tersenyumlah saat bertatap muka, berbicara di telepon, atau menulis surat. Kita akan dikejutkan betapa hebatnya secarik senyuman mengubah diri kita dan orang lain. Senyuman adalah bahasa bibir yang langsung mengetuk hati.

Entah darimana anak-anak belajar melukis wajah matahari pagi dengan selengkung senyum. Mungkin mereka tahu, segarnya senyuman tak kalah dari segarnya matahari pagi. Mungkin pula mereka teringat, semasa bayi dahulu, para orangtua rela berjungkir balik atau menampakkan mimik lucu mereka, demi sebuah senyuman tulus seorang bayi. Atau, mungkin anak-anak itu mengajari kita bahwa memulai hari dengan senyuman jauh lebih berharga daripada memikirkan rencana-rencana lain. Cobalah.

Karena tersenyum adalah sedekah termudah, termurah dan terindah yang bisa kita berikan, jangan sembunyikan itu di balik kebekuan hati kita.

Friday, September 17, 2004

Tak Seorang pun Kuasa Menolak Kita

Tak seorang pun dapat menolak atau mencampakkan kita, hanya karena mereka mengatakan tidak pada usul kita. Bukankah kita berhak memiliki pendapat sendiri, demikian juga mereka. Jangan menganggap apa ada dalam benak kita harus dapat disepakati oleh orang lain. Bukalah kesempatan lebar-lebar dengan tidak menutup kesempatan bagi orang lain. Saat usul kita tidak disepakati, terbukalah pilihan lain bagi kita. Mengiranya sebagai penolakan sama dengan mencampakkan diri kita dari kemungkinan yang lebih luas. Tak seorang pun kuasa menolak suatu ide kecuali menambah kokohnya ide itu. Hanya bila kita memiliki pikiran yang sempit, ide itu akan gugur begitu saja. Bagai debu terhembus angin.

Seandainya cuma ada satu nada tercipta, betapa membosankannya semua komposisi. Bahkan agar kuat, bangunan pun harus terbuat dari batu bata yang tersusun selang seling. Sedangkan tikar tak bisa dianyam hanya dengan selajur lurus daun lontar.

Perbedaan bukan hanya melahirkan keindahan, juga kekuatan dan manfaat. Hanya mereka yang tak mengerti yang menganggapnya sebagai bencana.

Thursday, September 16, 2004

Kesulitan Membawa Kita Pada Keberhasilan

Kita mahfum bahwa perjalanan ini tak mudah. Cepat atau lambat kita akan melintasi daerah yang berbatu, licin dan terjal. Kita menyebutnya sebagai masa sulit. Bagaimana cara kita mengatasinya menentukan apakah kita bisa terus melangkah di jalan keberhasilan atau tidak. Rintangan tampak bagai wajah yang menakutkan, hanya bila kita memalingkan pandangan dari tujuan. Tapi, bagaimana kita bisa sampai di ujung cakrawala bila terhenti di situ. Bukankah seorang murid saja harus menempuh ujian agar bisa naik kelas. Bahkan, agar bisa tetap berada dalam kelas pun ia harus menunaikan pekerjaan
rumahnya setiap malam.

Kita mendapatkan intan yang terbaik dengan menggosoknya. Pedang yang tajam tercipta karena tempaan dan panas yang melelehkan. Begitu pula, kesejatian kita takkan terujud bila tak diuji dengan kesulitan.

Kesulitanlah yang membawa kita naik ke tangga keberhasilan yang lebih tinggi. Sedangkan, kemudahan melenakan kita untuk tetap berputar-putar di lantai bawah.

Wednesday, September 15, 2004

Orang Besar Berpikir Besar

Kita besar dengan berpikir besar. Kita kecil bila berpikir kecil.Keterbatasan kita adalah pikiran kita. Mimpi dianugerahkan agar kita bisa berpikir besar. Maka bermimpilah menjadi besar. Mulailah dari pikiran kita. Keberhasilan semata-mata bagaimana kita meletakkanya dalam pikiran. Tidak ada yang salah pada lingkungan sekitar. Tidak pula salah pada waktu kita. Semua memberikan tempat dan kesempatan bagi kita untuk meraih keberhasilan.Tinggal kita mengambil langkah pertama, yaitu berpikir besar.

Tak ada yang salah pada katak yang merindukan bulan. Tak ada yang salah pada kera yang ingin menjadi dewa. Jangan hiraukan ucapan orang lain. Bergaullah dengan orang-orang yang berkepribadian besar.

Perlakukanlah diri kita dengan penuh rasa hormat, maka orang lain akan menghormati kita sebagai orang besar.

Tuesday, September 14, 2004

Hargailah Diri Kita Dengan Menghargai Tubuh Kita

Kita memiliki permata yang harus diletakkan di tempat terhormat, yaitu harga diri kita. Letakkanlah harga diri kita pada tubuh yang terhormat. Perlakukanlah diri kita seperti meletakkan lukisan di bawah cahaya lampu terbaik. Tubuh adalah anugerah. Hanya orang-orang yang berharga diri rendah saja yang mengabaikan dan menyia-nyiakan tubuhnya.

Di dalam tubuh yang terhormat terdapat diri yang terhormat. Kita takkan bisa memahat patung yang indah dari kayu lapuk. Kita takkan mampu membangun tembok kokoh dari tanah humus.

Bukan karena tubuh kita kuat kita menjadi terhormat, namun karena kita terhormatlah tubuh kita menjadi kuat.

Friday, September 10, 2004

Bersyukurlah Pada Apa Saja

Kita wajib mensyukuri apa pun yang menimpa kita. Ini bukan masalah keberuntungan. Bersyukur menuntun kita untuk senantiasa menyingkirkan sisi negatif dari hidup. Orang lain mungkin mengatakan bahwa kita tidak realistis. Namun, sebenarnya sikap kita jauh lebih realistis, yaitu membebaskan diri kita dari kecemasan atas kesalahan. Bersyukur mendorong kita untuk bergerak maju dengan penuh antusias. Tak ada yang meringankan hidup kita selain sikap bersyukur.

Semakin banyak kita bersyukur semakin banyak kita menerima. Semakin banyak kita mengingkari, semakin berat beban yang kita jejalkan pada diri kita. Kebanyakan orang lebih terpaku pada kegagalan lalu mengingkarinya. Sedikit sekali yang melihat pada keberhasilan lalu mensyukurinya. Karena, kita takkan pernah berhasil dengan menggerutu dan berkeluh kesah.

Kita berhasil karena berusaha. Sedangkan usaha kita lakukan karena kita melihat sisi positif. Hanya dengan bersyukurlah sisi positif itu tampak di pandangan kita.

Thursday, September 09, 2004

Berlayarlah Menuju Pantai Harapan

Kita adalah perahu kokoh yang sanggup menahan beban, terbuat dari kayu terbaik, dengan layar gagah menentang angin. Kesejatian kita adalah berlayar mengarungi samudra, menembus badai dan menemukan pantai harapan. Sehebat apapun perahu diciptakan, tak ada gunanya bila hanya tertambat di dermaga.

Dermaga adalah masa lalu kitaa. Tali penambat itu adalah ketakutan dan penyesalan kita. Jangan buang percuma seluruh daya kekuatan yang dianugerahkan pada kita. Jangan biarkan masa lalu menambat kita di situ. Lepaskan diri kita dari ketakutan dan penyesalan. Berlayarlah. Bekerjalah.

Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan badai, gelombang dan batu karang. Yang memisahkan kita dengan keberhasilan adalah masalah yang menantang. Di situlah tanda kesejatian teruji.

Hakikatnya perahu adalah berlayar menembus segala rintangan. Hakikat diri kita adalah berkarya menemukan kebahagiaan.

Wednesday, September 08, 2004

Kita Perlu Terpesona

Hiduplah dengan penuh antusiasme. Hadapi sesuatu dengan hasrat untuk terpesona. Dunia ini sudah begitu menakjubkan. Jangan biarkan kita menyia-nyiakan pandangan untuk mereguk rasa kagum. Yang kita perlukan adalah responsi yang spontan. Ada baiknya kita sedikit mengurangi pertimbangan dan penilaian kita mengenai positif atau negatif. Sikap antusias hanya membutuhkan dan hanya melihat sisi positif dari segala sesuatu.

Ini bukan masalah agar kita tampak bersemangat dan ceria dalam menjalani jalur keberhasilan kita. Namun, ini akan meringankan kita dari hal-hal yang mengkhawatirkan. Tak ada gunanya melihat dan mencemaskan sisi negatif.

Pikiran kita terlalu jernih untuk dibebani dengan prasangka-prasangka. Kini,biarkan rasa kagum dan imajinasi memenuhi benak kita.

Tuesday, September 07, 2004

Jangan Berhenti, atau Mati

Jangan berhenti. Bukan karena berhenti akan menghambat laju kemajuan kita. Namun sesungguhnya alam mengajarkan bahwa kita tak akan pernah bisa berhenti. Kita hanya perlu menyadari itu. Meski kita berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak kita mengelilingi matahari. Maka, bergeraklah,bekerjalah, berkaryalah. Bekerja bukan sekedar untuk meraih sesuatu. Bekerja memberikan kepuasan diri. Itulah yang diharapkan oleh alam dari kita.

Air yang tak bergerak lebih cepat busuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih cepat macet. Mesin yang tak pernah dinyalakan lebih cepat berkarat. Kaki yang tak pernah berolahraga lebih cepat terkena rematik. Hanya perkakas yang jarang digunakanlah yang kita simpan dalam laci berdebu. Alam telah mengajarkan kunci kebahagiaan kita.

Jangan berhenti untuk bergerak meraih keberhasilan kita, atau kita akan lebih cepat tua dan tak berguna.

Monday, September 06, 2004

Percaya Diri adalah Kunci Keberhasilan

Berpikirlah bahwa kita bisa melakukan sesuatu. Pada saat kita merasa bisa, kita telah memiliki kunci pertama keberhasilan kita, yaitu kepercayaan diri. Jauhilah orang-orang yang berusaha memadamkan obor semangat kita. Mereka takkan pernah bisa menolong kita sebagaimana mereka takkan pernah bisa menolong diri mereka sendiri. Rasa percaya diri bukan saja mendorong kita untuk bisa, ia membentuk diri kita.

Tanamkan rasa percaya diri sekuat mungkin. Teriakkan bahwa kita bisa hingga kita benar-benar mendengarkannya. Gores dalam-dalam di lempengan hati kita.Pukul kuat-kuat dada kita. Pastikan kita merasakan rasa bisa kita membakar seluruh tubuh, sebagaimana bahan bakar membakar roket yang membawa kita melejit pada kenyataan bahwa kita memang bisa melakukannya.

Percaya diri adalah bahan bakar yang tak kenal habis. Ia berlipat ganda begitu kita terus melangkah maju.

Friday, September 03, 2004

Keterbatasan Kita adalah Tanggung Jawab Kita

Satu-satunya yang membatasi diri kita di jalan keberhasilan adalah pikiran kita sendiri; yaitu pikiran yang mengatakan bahwa kita tak bisa mencapai tujuan kita. Tidak cukup hanya sekedar memiliki tujuan, kita harus berani menyingkirkan pikiran yang menghambatkita. Tanamkan pikiran dan sikap positif. Katakan pada diri kita sendiri bahwa kita akan berhasil, kita mampu meraihnya; kita sanggup mencapainya. Maka sesuatu yang luar biasa terjadi, kita memang benar-benar berhasil meraih tujuan kita.

Tak perlu menjadi seorang yang gagah berani untuk mengarungi angkasa luar.Dengan pikiran yang bebas dan tak terbelenggu, Stephen Hawking, jenius cacatyang kesulitan untuk ke kamar kecil itu, mampu bercerita tentang keajaiban alam raya. Kini kita bisa perhatikan, keajaiban itu sebenarnya terletak dipikiran beliau. Kita telah memilikinya, bebaskan dari belenggu keterbatasan,maka kita dapat mewujudkan tujuan kita.

Buanglah keterbatasan pikiran kita, maka kita akan menemukan kebebasan serta kekuatan untuk meraih apa saja yang kita inginkan.

Thursday, September 02, 2004

Tentukanlah Tujuan Kita

Kita memang dapat melakukannya. Dan tak seorang pun dapat menghentikan langkah kita kecuali lkita sendiri. Yang perlu kita lakukan adalah memutuskan apa yang ingin kita raih. Tanpa tujuan, kita mungkin tak pergi kemana-mana. Atau, malah tiba di tempat yang tak kita inginkan. Tujuan menyediakan garis start untuk memulai, jalan untuk dilalui, dan tempat untuk dituju.

Tanpa tujuan seluruh kekuatan kita sebagai manusia sejati bisa jadi sia-sia.Tanpa tujuan, kita ibarat perahu kuat dengan layar terkembang yang terombang-ambing ombak tanpa nakhoda. Seberapa tangguh perahu itu mengarungi samudra, ia takkan mencapai pantai mana pun. Alih-alih mendarat di tanah impian, malah tenggelam ke dasar laut menjadi sebongkah rumah ikan.

Pahamilah bahwa tujuan memberi kita segalanya. Kita hanya perlu memutuskan, maka tujuan takkan menyia-nyiakan kita, kecuali kita memutuskan untuk tak meraihnya.

Wednesday, September 01, 2004

Bicaralah dengan Bahasa Hati

Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta. Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang. Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan. Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan. Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran. Semua itu haruslah berasal dari hati kita. Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa tajam otak kita, namun juga betapa lembut hati kita dalam menjalani segala sesuatunya.

Kita tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya dengan merengkuhnya dalam lengan kita yang kuat. Atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis. Kita harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang jauh di dalam dada kita.

Mulailah melembutkan hati sebelum memberikannya pada keberhasilan kita. Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula.