Cahya's Website

Personal website of Cahya DSN

 :: BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM - In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful

Thursday, October 28, 2004

Daya Cipta Hadir Bila Kita Peka Pada Suara Alam

Dengan suara apakah kita memulai hari kita? Teriakan bahwa hari sudah siang? Berita TV pagi yang menayangkan kegelisahan? Pekik radio tetangga yang bersahut-sahutan? Betapa banyak orang memulai harinya dengan keriuhan. Padahal mereka tahu, sepanjang harinya mereka akan mengalami keributan yang lebih ribut. Lalu, dengan suara apakah kita menutup hari kita? Omelan yang menyuruh kita tidur dan mematikan lampu? Dialog TV yang membingungkan? Kentongan peronda bertalu-talu? Betapa banyak orang menutup harinya dengan keriuhan pula. Bertanyalah pada diri sendiri, manakah yang lebih menentramkan hati, memulai dan menutup hari dengan keriuhan atau ketenangan? Pilihlah ketenangan! Bertemanlah dengan kesunyian. Akrabilah kesenyapan.

Bila kita lebih suka berada dalam keriuhan, maka pilihlah keriuhan suara alam. Suara air terjun yang bergemuruh jauh lebih menyehatkan pikiran dan jiwa kita. Demikian pula, suara semilir angin, hujan deras, halilintar, deburan ombak, kicau burung, kukuruyuk ayam, gemerisik pepohonan, kecipak ikan di kolam.

Berilah waktu pada diri kita untuk menyadari keberadaan kita di alam ini. Ini bukan cara untuk meninggalkan kehidupan kita sehari-hari. Ini adalah cara untuk memperkaya jiwa. Motivasi, inspirasi, daya cipta datang dari kepekaan kita pada suara alam

Wednesday, October 27, 2004

Kalahkan Diri Kita, Bukan Orang Lain

Kemenangan kita bukanlah kemenangan atas orang lain. Namun, kemenangan kita atas diri kita sendiri. Berpacu di jalur keberhasilan kita adalah pertandingan untuk mengalahkan ketakutan, keengganan, keangkuhan dan semua beban-beban yang menambat diri kita di tempat start kita. Jerih payah kita untuk mengalahkan orang lain sama sekali tak berguna. Motivasi bukan lahir karena rasa iri, dengki atau dendam pada orang lain. Kita tahu, keberhasilan sejati akan memberikan kebahagiaan sejati. Sedangkan kebahagiaan sejati tak mungkin diraih oleh motivasi yang ternoda.

Pelari yang berlari untuk mengalahkan pelari lain, akan tertinggal karena sibuk mengintip laju orang lain. Pelari yang berlari untuk memecahkan recordnya sendiri tak peduli apakah orang lain akan menyusulnya. Inilah pelari sejati yang mengejar perbaikan diri. Ia tidak peduli dimana dan siapa lawan-lawannya. Ia mencurahkan diri untuk memecahkan rekornya sendiri. Ia ingin lebih baik. Ia berkompetisi dengan dirinya sendiri bukan dengan orang lain. Dengan demikian ia merasa tak perlu melakukan kecurangan-kecurangan atau trik-trik agar orang lain terkalahkan.

Mengalahkan orang lain bisa jadi kekalahan kita sendiri

Tuesday, October 26, 2004

Merendahkan Hati Bukan Menyepelekan Diri

Kita tidak pelu mencari sanjungan, ucapan terima kasih dan pujian dari orang lain. Sama sekali tak ada alasan untuk itu. Kita berkarya karena kita menyadari bahwa keberadaan kita di sini bukan untuk sia-sia. Kita adalah kita dengan suatu tujuan. Kita sadar betul hal ini. Oleh karena itu, lakukan segala sesuatunya dengan merendahkan hati. Wujudkan karya kita karena ketulusan hati. Alangkah hebatnya kita bila sanjungan tidak membesarkan diri kita; dan pujian tidak meledakkan kepala kita. Orang lain tak perlu tahu bahwa kita yang melakukannya.

Ini sama sekali bukan anjuran agar menjadi seperti Lone Ranger yang datang dan pergi tanpa diketahui. Namun, kemampuan untuk merebahkan diri bagaikan padi yang masak. Semakin berarti semakin merunduk. Bukan kehadiran kita yang berarti, namun kehadiran karya kita. Ketika kita merendahkan diri kita di hadapan orang lain, dunia menghormati kita. Sebaliknya, saat kita menyombongkan diri, dunia merendahkan kita.

Kata orang bijak, biarkan kebaikan lahir dari tangan kananmu seolah-olah tangan kirimu tidak mengetahuinya.

Monday, October 25, 2004

Jangan Bersembunyi di Balik Bayangan Orang Lain

Banyak orang bersembunyi di balik bayang-bayang orang lain, sekedar untuk ikut menikmati sedikit keberhasilan. Mereka mengakui ide, jerih payah, karya dan keberhasilan orang lain sebagai milik mereka. Bila kita melakukan hal ini, maka ini bukan saja kegagalan kita, namun juga kekalahan telak bagi integritas kita. Akuilah keberhasilan orang lain dengan menghargai dan menghormati apa yang telah mereka raih. Nyatakan dengan tulus bahwa keberhasilan ini bukan milik kita. Keberhasilan semu bagaikan pakaian indah yang terpajang di etalase toko. Seberapa bagus itu kita katakan, tetap saja kita tidak berhak mengenakannya.

Bersembunyi di balik bayang-bayang mungkin membuat kita nyaman. Namun apa yang bisa diberikan sebuah bayangan hanyalah kegelapan. Selama kita berjalan di bawah remang-remang, bagaimana kita bisa mengetahui tempat yang dituju? Karena itu, keluarlah. Tunjukkan kemampuan kita sendiri. Berjalan di bawah terik matahari selalu melelahkan. Namun, keringat itu adalah keringat kita sendiri. Itulah kehormatan kita, yang jauh lebih berharga daripada keberhasilan semu dengan menipu diri sendiri.

Mulailah meniti keberhasilan kita sendiri. Meski hanya setetes, keberhasilan sejati adalah mata air bagi padang pasir kita.

Wednesday, October 20, 2004

Pekerjaan Kita Bisa Menunggu

Seberapa luas dunia yang kita ciptakan? Banyak orang hanya memiliki dunia seluas meja tulisnya. Atau sepetak ruang kerjanya. Atau mungkin sebesar gedung kantornya saja. Pandanglah keluar. Tebarkan pandangan kita. Carilah ujung cakrawala. Nikmatilah cahaya matahari sore menemani perjalanan pulang kita ke rumah. Dunia kita jauh lebih luas dari yang kita sangka. Ruang yang tersedia bukan hanya antara rumah dan ruang kerja kita. Kita dianugerahi lautan, pegunungan, hutan, mata air dan berbagai keindahan alam lainnya. Sadarilah bahwa semua ini tak kalah berharganya. Karena itu, jangan sia-siakan waktu kita untuk tidak melebur dengan keindahan yang tiada tara.

Ayolah, pekerjaan bisa menunggu. Namun umur kita takkan kembali. Waktu adalah anak panah yang melesat kencang. Kita tak mungkin mampu menghentikan atau melambatkannya. Selama waktu masih tersisa, tak perlu ragu untuk menikmati kehadiran kita di bumi ini. Ketika kita menyadari betapa berharganya itu semua, kita pun menyadari betapa berharganya kita yang mungil ini di alam semesta yang maha luas ini. Kehadiran kita bagian dari alam ini. Hiduplah penuh keseimbangan.

Jangan ragu untuk meninggalkan pekerjaan kita. Esok masih ada. Kecuali kita mau menyesal karena di saat pandangan kita telah lamur, kita baru tersadar akan keelokan alam ini.

Tuesday, October 19, 2004

Merenunglah Untuk Ketentraman Batin

Sediakan beberapa menit dalam sehari untuk melakukan perenungan. Lakukan di pagi hari yang tenang, segera setelah bangun tidur. Atau di malam hari sesaat sebelum beranjak tidur. Merenunglah dalam keheningan. Jangan gunakan pikiran untuk mencari berbagai jawaban. Dalam perenungan kita tidak mencari jawaban. Cukup berteman dengan ketenangan maka kita akan mendapatkan kejernihan pikiran. Jawaban berasal dari pikiran kita yang bening.

Pikiran yang digunakan itu bagaikan air sabun yang diaduk dalam sebuah gelas kaca. Semakin banyak sabun yang tercampur semakin keruh air. Semakin cepat kita mengaduk semakin kencang pusaran. Merenung adalah menghentikan adukan. Dan membiarkan air berputar perlahan. Perhatikan partikel sabun turun satu persatu, menyentuh dasar gelas. Benar-benar perlahan. Tanpa suara. Bahkan kita mampu mendengar luruhnya partikel sabun. Kini kita mendapatkan air jernih tersisa di permukaan. Bukankah air yang jernih mampu meneruskan cahaya. Demikian halnya dengan pikiran kita yang bening.

Selama berhari-hari kita disibukkan oleh berbagai hal. Sadarilah bahwa pikiran kita memerlukan istirahat. Tidak cukup hanya dengan tidur. Kita perlu tidur dalam keadaan terbangun. Merenunglah dan dapatkan ketentraman batin.

Monday, October 18, 2004

Ketekunan Adalah Kekuatan Kita

Apa yang kita raih sekarang adalah hasil dari usaha-usaha kecil yang kita lakukan terus-menerus. Keberhasilan bukan sesuatu yang turun begitu saja. Bila kita yakin pada tujuan dan jalan kita, maka kita harus memiliki ketekunan untuk tetap berusaha. Ketekunan adalah kemampuan kita untuk bertahan di tengah tekanan dan kesulitan. Kita harus tetap mengambil langkah selanjutnya. Jangan hanya berhenti di langkah pertama. Memang semakin jauh kita berjalan, semakin banyak rintangan yang menghadang. Bayangkan, andai saja kemarin kita berhenti, maka kita tidak berada di sini sekarang.

Pepatah mengatakan bahwa ribuan kilometer langkah di mulai dengan satu langkah. Sebuah langkah besar sebenarnya terdiri dari banyak langkah-langkah kecil. Dan langkah pertama keberhasilan harus kita mulai dari rumah kita. Rumah kita yang paling baik adalah hati kita. Itulah sebaik-baiknya tempat untuk memulai dan untuk kembali. Karena itu mulailah kemajuan kita dengan memajukan hati kita, kemudian pikiran kita dan usaha-usaha kita. Ketekunan hadir bila apa yang kita lakukan benar-benar berasal dari hati kita.

Setiap langkah menaikkan nilai diri kita. Apa pun yang kita lakukan, jangan sampai kehilangan ketekunan kita. Karena ketekunan adalah daya tahan kita.

Friday, October 15, 2004

Singkirkan Prasangka, Temukan Kejernihan Pandangan

Ketika kita memandang suatu persoalan, tanggalkan prasangka-prasangka. Prasangka itu bagaikan sepatu yang nyaman dipakai namun tak dapat digunakan untuk berjalan. Ia memberikan jawaban sebelum kita mengetahui pertanyaannya. Dan, seburuk-buruknya jawaban adalah bila kita tak paham akan masalahnya. Biarkan fakta yang tampak di hadapan kita terima apa adanya. Jangan biarkan prasangka menyeret kita ke ujung jalan yang lain. Mungkin kita merasa aman dengan prasangka kita, namun sebenarnya ia berbahaya di waktu yang panjang. Bila kita telah mampu melepaskan prasangka, kita menemukan pandangan yang lebih jernih, keberanian untuk mengatasi masalah dan jalan yang lebih lebar.

Bila kita mengenakan kacamata, maka yang melihat tetaplah mata kita. Bukan kacamata kita. Dan keadaan yang sebenarnya terjadi adalah apa yang berada di balik kacamata. Bukan yang terpantul pada cermin kacamata kita. Demikian pula halnya dengan diri kita, yang sesungguhnya melihat adalah hati kita melalui mata kita. Prasangka itu adalah debu-debu pikiran yang mengaburkan pandangan hati sehingga kita tak mampu melihat dengan baik.

Usaplah prasangka sebagaimana kita menyingkirkan debu dari kacamata karena keinginan kita untuk melihat lebih jelas dan jernih lagi

Thursday, October 14, 2004

Akuilah, Kita Manusia Biasa

Ketika kita melakukan kesalahan, sadarilah bahwa kita hanyalah manusia biasa. Dan, inti kemanusiaan adalah ketidaksempurnaan. Kita hanya perlu menjadi lebih baik. Ini bukan berarti kita harus melakukan kesalahan. Namun, kita harus menyadari bahwa kesempurnaan itu tak usah diupayakan. Bila kita menuntut kesempurnaan pada diri kita sendiri, terlebih pada orang lain, maka kita berjalan di jalur yang menyesatkan. Kesempurnaan semacam ini tak mengijinkan kesalahan dan membunuh daya cipta. Kesempurnaan ini hanya akan membebani langkah kita. Alih-alih melangkah maju, kita salah melangkah atau tak memiliki kekuatan untuk berjalan.

Mungkin menyenangkan menonton film dimana sang jagoan selalu menang dan tak mungkin terluka. Tapi, kita tahu itu tidak ada. Meski hanya di film, suatu saat kita akan merasa bosan dan dikibuli. Itulah mengapa, bila kita merasa harus selalu benar dan menganggapnya sebagai kesempurnaan, kita menipu diri kita sendiri. Jangan biarkan kita melakukan kesalahan. Demikian halnya, jangan paksa diri kita untuk melakukan kesempurnaan. Akuilah bahwa kita manusia biasa. Maka, kita akan sangat terhormat di mata kita sendiri dan orang lain.

Bila kita ingin meraih yang terbaik dari diri kita dan orang lain, maka biarkan kemanusiaan kita menuntun arah kita, yaitu dengan petunjuk kesalahan.

Wednesday, October 13, 2004

Belajarlah Seumur Hidup Kita

Bila kita menganggap bahwa kita sudah tak perlu lagi belajar selepas meraih ijazah sekolah, maka kita salah besar. Dunia sedang berjalan semakin cepat. Manusia bekerja semakin baik. Persoalan yang muncul semakin rumit. Kita memerlukan ketrampilan-ketrampilan baru. Bukan hanya sebagai alat untuk meraih kemajuan. Namun untuk berada di tempat, kita dituntut untuk tahu bagaimana menjaga posisi. Karena itu, jangan berhenti belajar. Pelajarilah hal-hal baru dengan penuh antusias. Belajar berarti membuka diri kita pada dunia yang maha luas ini. Belajar mengingatkan, sesungguhnya kita tak mungkin tahu semua jawaban. Belajar mengajarkan pelajaran terpenting dalam hidup, yaitu kerendahan hati untuk bertanya.

Memang benar, sarang burung Manyar tak mengalami perubahan sejak beabad-abad lalu. Mungkin, hingga berabad-abad ke depan. Juga benar, ikan Salmon mungkin takkan mengubah perjalanannya ke sungai air tawar untuk meletakkan telur-telur mereka. Namun, kehidupan manusia selalu berubah. Bukan hanya dari tahun ke tahun, atau dari bulan ke bulan. Tetapi, dari hari ke hari. Manusia akan menemukan cara-cara terbaik bagi hidup mereka. Rahasia alam ini terlalu Maha Besar untuk dimengerti dalam seumur yang fana ini.

Kita tidak harus mengetahui semua jawaban. Namun, kita harus berusaha tahu apa yang terbaik bagi hidup kita. Untuk itu kita harus belajar. Seumur hidup kita.

Tuesday, October 12, 2004

Perekat Kembali Persahabatan Kita

Periksalah kembali persahabatan yang pernah kita rajut. Apakah masih terbentang di sana? Atau kita telah melupakannya jauh sebelum ini. Bekerja keras dan meniti jalan karier bukan berarti memisahkan kita dari persahabatan. Beberapa orang mengatakan bahwa menjadi pemimpin itu berteman sepi; selalu mengerjakan apa pun sendiri. Memang pohon yang menjulang tinggi berdiri sendiri. Perdu yang rendah tumbuh bersemak-semak. Demikiankah hidup yang ingin kita jalani? Bukan. Jangan kacaukan karier dengan kehidupan yang semestinya. Persahabatan merupakan bagian dari hidup kita. Binalah persahabatan. Kita akan merasakan betapa kayanya hidup kita.

Orang bijak bilang bahwa sahabat adalah satu jiwa dalam tubuh yang berbeda. Dan sahabat kita yang terdekat adalah keluarga kita. Barangkali, itulah mengapa bersahabat meringankan beban kita, karena di dalam persahabatan tidak ada perhitungan. Di sana kita belajar menghindari hal-hal yang tidak kita setujui, dan senantiasa mencari hal-hal yang kita sepakati. Itu juga mengapa persahabatan adalah kekuatan. Sebagaimana kata pepatah, hidup tanpa teman, mati pun sendiri

Berbagi kesedihan pada sahabat, mengurangi kesedihan. Berbagai kebahagiaan pada sahabat, memperkokoh kebahagiaan.

Monday, October 11, 2004

Jangan Mengeluh, Kita Telah Sempurna Untuk Misi Kita

Ketika kita bercermin pagi ini, yakinlah bahwa sosok yang kita temui di sana adalah diri kita yang sempurna. Tiada cacat. Tiada kurang. Tak perlu kita mempertanyakan mengapa kita berparas seperti itu, berwarna kulit ini atau bertubuh demikian. Kita telah dianugerahi sosok terbaik; perlengkapan sempurna untuk menjalankan misi kita. Carilah kekuatan pada diri kita sendiri. Terlalu banyak orang takut pada bayangannya sehingga mencari bayangan orang lain. Kita hanya perlu mensyukuri apa yang ada pada diri kita sendiri, maka kita akan menemukan kekuatan yang tak terbayangkan. Nilai kita adalah apa yang kita karyakan bukan apa yang kita keluhkan.

Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau, kata pepatah. Namun, rumput di halaman sendiri jauh lebih berharga. Hidup ini bukan untuk mempersoalkan apa yang kita miliki, namun apa yang dapat kita lakukan dengan apa yang kita miliki. Hidup ini terlalu singkat untuk mencari semua jawaban, namun cukup untuk melakukan pekerjaan.

Berhentilah mengeluh. Pandanglah betapa sempurnanya kita. Jadilah kuat. Jadilah diri kita sendiri.

Friday, October 08, 2004

Tak Ada Yang Sia-sia

Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu mereka mengalir menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di samudra, setiap tetes air tahu suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke pucuk-pucuk gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur. Sebagian kembali ke laut. Adakah sesuatu yang sia-sia dari setiap tetes air yang kita temui di selokan rumah kita?

Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tiada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin kita mengalami pengalaman buruk yang tak mengenakkan, maka keburukan itu hanya karena kita melihat dari salah satu sisi mata uang saja. Bila kita berani menengok ke sisi yang lain, kita akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda. Kita tidak harus menjadi orang tersenyum terus atau menampakkan wajah ceria.

Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis.

Thursday, October 07, 2004

Tapakkan Langkah Pertama Untuk Keberhasilan Kita

Kita telah menuliskan tujuan kita dan mengetahui arah yang harus dituju, maka semua itu tak akan tercapai bila kita tidak bersedia mengambil langkah pertama. Bagian terberat dalam perjalanan keberhasilan kita adalah keberanian untuk menapakkan langkah pertama kita. Seluruh inti terwujudnya keberhasilan kita terletak pada saat kita memulainya. Begitu kita telah memulai, keraguan sirna, ketakutan memudar, kekhawatiran memupus. Semua itu terkalahkan oleh keberanian. Dan, keberanian adalah api yang membakar habis daun kering.

Tak mudah bagi setiap pengarang untuk mengetikkan kata pertama pada artikelnya. Tak mudah bagi setiap pelukis untuk menyapukan goresan pertama pada kanvasnya. Tak mudah bagi setiap komponis untuk menekan tuts nada pertama pada gubahannya.

Langkah pertama adalah batu ujian terberat bagi keberanian kita. Sebagaimana bangun di pagi buta terasa berat. Namun kita harus melakukannya atau kita takkan beranjak dari tempat kita.

Wednesday, October 06, 2004

Berbuat Baik Adalah Kita

Salah satu harapan yang diucapkan oleh orangtua ketika kita kecil dulu adalah "Semoga kau menjadi anak baik." Baik merupakan kata dengan makna yang luar biasa. Kita tak perlu menjadi pintar untuk mengetahui apa arti kata baik. Kita telah mengetahuinya semenjak kita belum mengenal kata itu sendiri. Karena, baik adalah sifat dasar kita. Berbuatlah baik seolah kita tak mengetahui bahwa itu kebaikan. Memang, semestinya kita tak perlu merasa baik, karena ketika kita merasa baik, maka kebaikan itu berjarak dari kita. Ia menjadi sesuatu yang baru bagi kita.

Saat kita mengasah pisau, kita takkan mendapatinya menjadi tajam, hingga kita berhenti untuk menyentuh dan merasakan ketajaman mata pisau. Saat kita memandangi kuntum bunga, kita takkan mendapatinya merekah, hingga kita memalingkan muka untuk menemukan kembali ia telah benar-benar mekar. Semua ini, sama dengan saat kita melakukan kebaikan, kita tak perlu berusaha untuk menyadari kebaikan kita, karena suatu waktu kita akan berhenti untuk menerima imbalan atas kebaikan yang telah kita perbuat.

Keinginan kita untuk merasakan buah dari kebaikan kita sekarang akan mengaburkan motivasi juga kebaikan itu sendiri. Seperti debu yang tertiup angin.

Tuesday, October 05, 2004

Bukan Hanya Mendengar, Tetapi Dengarkan

Dengarkan. Bukan cuma mendengar, namun kita harus mendengarkan. Mendengarkan adalah menyengaja mendengar. Berikan perhatian yang tulus pada saat orang lain berbicara. Kita harus membekukan lidah dan menutup rapat-rapat bibir kita. Orang terbiasa hidup dalam keriuhan yang terjadi di luar dan dalam diri mereka. Mendengarkan adalah berusaha mensepikan diri dalam kita dari perkataan kita sendiri. Tak perlu menyepakati atau menolak ucapan orang lain. Karena mendengarkan bukanlah menilai. Mendengarkan menangkap fakta sepolos mungkin tanpa penilaian apa-apa. Tunggulah hingga orang lain selesai berbicara. Berikan komentar setelah kita yakin kita mendengarkan dengan seksama.

Mendengarkan adalah kualitas untuk hidup dalam ketenangan. Bila kita bersedia mendengarkan kita akan mendengar suara-suara yang tak terucapkan. Hembusan nafas, degub jantung, gemeretak otot, semilir rambut, adalah suara-suara jujur yang tak terucapkan lewat kata-kata.

Kita dianugerahi sepasang telinga untuk mendengar, dan sebongkah hati untuk mendengarkan. Gunakan itu, maka kita akan menemukan rahasia-rahasia yang tersembunyi, termasuk spasi di antara dua buah kata.

Monday, October 04, 2004

Berhentilah Mengkritik, Mulailah Menolong

Kita akan memiliki lebih banyak "waktu" dengan tidak mengkritik. Setiap orang memahami sesuai dengan prasangkanya. Dan mereka berhak mempertahankan pendiriannya. Jadi untuk apa membebani diri kita dengan mengkritik apa yang terjadi pada diri orang lain. Kita tak selalu memahami segala sesuatu. Mungkin saja kita tidak melihat sesuatu yang dilihat orang lain. Namun, keterbatasan pikiran kita mengaburkannya sehingga seolah kita yang melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain.

Bila perahu kita bocor di tengah lautan. Kritik kita pada si pembuat perahu tidak akan menolong kita dari ketenggelaman. Kita harus menambal lubang itu atau terjun ke air untuk berenang. Ini akan menolong kita sendiri. Semua tindakan kita merupakan tabungan bagi diri kita sendiri, yang akan kita tarik kelak. Dan seburuk-buruknya simpanan adalah kecaman. Sedangkan pertolongan selalu memberikan bunga yang terbaik.

Bersikaplah jujur. Sungguh jauh berbeda antara mengecam dengan menolong. Kecaman melemahkan. Sedangkan pertolongan memperkokoh. Dan itu berlaku bagi yang memberi maupun yang menerima.

Friday, October 01, 2004

Jangan Biarkan Bisa Menjadi Tidak Bisa

Mulailah mengerjakan sesuatu. Jangan biarkan pertanyaan memenuhi benak kita sehingga melunturkan kemampuan kita untuk melakukan sesuatu. Memang, banyak hal yang tidak bisa kita lakukan saat ini. Karena itu tinggalkan saja. Kerjakan sesuatu yang kita bisa, meski hanya menuliskan sebuah titik. Jangan biarkan sesuatu yang tak bisa kita kerjakan malah menyurutkan niat kita untuk mengerjakan sesuatu yang bisa kita kerjakan. Perhatikan saja keberanian kita untuk mengambil tindakan. Sekecil apa pun langkah pertama yang kita tapakkan adalah langkah besar bagi keberanian kita.

Tak perlu disibukkan dengan pertanyaan: mana yang lebih dulu, "Telor" atau "Ayam". Yang perlu kita lakukan adalah melihat apa yang ada dalam genggaman dan menghargainya. Yaitu, dengan mengerjakan sesuatu sebaik-baiknya. Bila telur yang berada dalam genggaman, eramilah hingga ia menetas menjadi seekor anak ayam. Sedangkan, bila ayam yang berada dalam genggaman, peliharalah sampai bisa menghasilkan telur-telur.

Lebih dari sekedar mempertanyakannya namun mengerjakannya.